<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Resensi-Review Bhayu</title>
	<atom:link href="http://www.resensi-review.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.resensi-review.com</link>
	<description>Mengulas yang pantas diulas</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 May 2012 19:37:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>The Avengers</title>
		<link>http://www.resensi-review.com/?p=439</link>
		<comments>http://www.resensi-review.com/?p=439#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 May 2012 18:47:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[action]]></category>
		<category><![CDATA[Black Widow]]></category>
		<category><![CDATA[Captain America]]></category>
		<category><![CDATA[comic]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[Hawkeye]]></category>
		<category><![CDATA[Hulk]]></category>
		<category><![CDATA[Iron Man]]></category>
		<category><![CDATA[movie]]></category>
		<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[superhero]]></category>
		<category><![CDATA[The Avengers]]></category>
		<category><![CDATA[Thor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.resensi-review.com/?p=439</guid>
		<description><![CDATA[Inilah film yang lagi happening banget. Bioskop-bioskop Cineplex kita sampai membuka lebih dari satu layar untuk menayangkannya. Di seluruh penjuru dunia, film ini memang sedang jadi box office. Tak kurang dari 370-an juta dollar sudah diraihnya. Di film, ini enam superhero yang merupakan icon dari pemilik merek Marvel bergabung. Film ini bisa dibilang adalah kulminasi<a href="http://www.resensi-review.com/?p=439">&#160;&#160;[ Read More ]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/05/newavengersposter.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-444" title="newavengersposter" src="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/05/newavengersposter-202x300.jpg" alt="" width="202" height="300" /></a>Inilah film yang lagi <em>happening</em> banget. Bioskop-bioskop Cineplex kita sampai membuka lebih dari satu layar untuk menayangkannya. Di seluruh penjuru dunia, film ini memang sedang jadi box office. Tak kurang dari 370-an juta dollar sudah diraihnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di film, ini enam superhero yang merupakan <em>icon </em>dari pemilik merek Marvel bergabung. Film ini bisa dibilang adalah kulminasi dari sejumlah film lain yang kesemuanya diangkat dari komik. Sebutlah <em>Iron Man</em> dan <em>Iron Man 2</em> (2008, 2011), The Incredible <em>Hulk</em> (2008), <em>Thor</em> (2011) dan <em>Captain America: The First Avenger</em> (2011). Hanya Hawkeye dan Black Widow yang belum dibuatkan filmnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Alkisah, Loki yang dikalahkan Thor dalam perebutan tahta Asgard marah. Ia beraliansi dengan makhluk planet lain untuk menyerang bumi. Sementara di bumi, organisasi SHIELD (yang pertama kali diperkenalkan dalam film Iron Man) sedang menyelidiki kubus yang ditemukan Iron Man di dasar laut saat menyelamatkan Captain America yang terkubur di Antartika. Ternyata kubus itu adalah gerbang antar dimensi.</p>
<p style="text-align: justify;">Nick Fury sebagai Direktur SHIELD akhirnya memanggil tim The Avengers. Padahal para superhero itu sempat dinyatakan tak lolos seleksi karena dianggap labil. Hawkeye dan Black Widow yang ditugaskan mencari anggota lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah seluruh anggota terkumpul, ternyata masih ada masalah ego. Masing-masing merasa tak perlu menuruti perintah atau permintaan yang lain. Satu yang paling sulit justru menahan agar Dr. Bruce Banner tidak berubah wujud menjadi Hulk. Bila ia berubah wujud, justru karena  ia sedang emosi dan tak mengenal lagi mana kawan mana lawan.</p>
<p style="text-align: justify;">Film ini asyik bagi penggemar komik dan <em>action. </em>Di masa lalu, memang sulit mewujudkan film seperti ini. Terutama sekali karena teknologi belum semaju sekarang. <em>Special effect</em>-nya ciamik, walau harus diakui alur ceritanya amat cepat dan terkesan tergesa-gesa. Penonton diharapkan sudah mengenal karakter masing-masing <em>superhero. </em>Sehingga tak perlu lagi diperkenalkan siapa mereka. Bahkan untuk yang belum dibuatkan filmnya seperti Natasha Romanoff The Black Widow dan Hawkeye pun dianggap sudah cukup dikenal. Tak heran sama sekali tak ada penggambaran latar belakang masing-masing karakter. Jadi, bisa dibilang film ini mulai sudah setengah jalan. Para penonton diharapkan sudah tahu sendiri tentang para superhero itu, atau minimal sudah menyaksikan film-film sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi saya, film ini sayang untuk dilewatkan. Meski agak mengantri saat mendapatkan tiketnya, namun <em>worth it </em>lah…</p>
<p style="text-align: justify;">Rating saya:</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/05/popcorn.png"><img title="popcorn" src="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/05/popcorn.png" alt="" width="61" height="65" /></a><a href="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/05/popcorn.png"><img title="popcorn" src="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/05/popcorn.png" alt="" width="61" height="65" /></a><a href="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/05/popcorn.png"><img title="popcorn" src="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/05/popcorn.png" alt="" width="61" height="65" /></a><a href="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/05/popcorn.png"><img title="popcorn" src="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/05/popcorn.png" alt="" width="61" height="65" /></a><a href="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/05/popcorn.png"><img title="popcorn" src="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/05/popcorn.png" alt="" width="61" height="65" /></a><a href="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/05/popcorn.png"><img title="popcorn" src="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/05/popcorn.png" alt="" width="61" height="65" /></a><a href="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/05/popcorn.png"><img title="popcorn" src="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/05/popcorn.png" alt="" width="61" height="65" /></a><a href="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/05/popcorn2.png"><img title="popcorn2" src="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/05/popcorn2.png" alt="" width="61" height="65" /></a><a href="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/05/popcorn2.png"><img title="popcorn2" src="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/05/popcorn2.png" alt="" width="61" height="65" /></a><a href="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/05/popcorn2.png"><img title="popcorn2" src="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/05/popcorn2.png" alt="" width="61" height="65" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p><a href="http://www.resensi-review.com/?p=439" rel="bookmark">The Avengers</a> originally appeared on <a href="http://www.resensi-review.com">Resensi-Review Bhayu</a> on May 6, 2012.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.resensi-review.com/?feed=rss2&#038;p=439</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Battleship</title>
		<link>http://www.resensi-review.com/?p=452</link>
		<comments>http://www.resensi-review.com/?p=452#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Apr 2012 19:30:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[action]]></category>
		<category><![CDATA[Amerika Serikat]]></category>
		<category><![CDATA[Battleship]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[kapal]]></category>
		<category><![CDATA[laut]]></category>
		<category><![CDATA[movie]]></category>
		<category><![CDATA[perang]]></category>
		<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.resensi-review.com/?p=452</guid>
		<description><![CDATA[Kalau Anda pernah bermain “kapal perang” yang caranya dengan menebak koordinat kapal lawan, hingga yang lebih dulu menenggelamkan semua kapal lawan menang, maka film ini terinspirasi permainan tersebut. Di negeri asalnya –Amerika Serikat-, permaian “Battleship” dirilis oleh Hasbro. Meski di film ini permainan tersebut tentu saja tidak “plek” ditampilkan.  Melainkan penonton disuguhi konflik antara manusia<a href="http://www.resensi-review.com/?p=452">&#160;&#160;[ Read More ]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/05/Battleship_English-1-Sheet_New.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-453" title="Battleship_English-1-Sheet_New" src="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/05/Battleship_English-1-Sheet_New-226x300.jpg" alt="" width="226" height="300" /></a>Kalau Anda pernah bermain “kapal perang” yang caranya dengan menebak koordinat kapal lawan, hingga yang lebih dulu menenggelamkan semua kapal lawan menang, maka film ini terinspirasi permainan tersebut. Di negeri asalnya –Amerika Serikat-, permaian “Battleship” dirilis oleh Hasbro. Meski di film ini permainan tersebut tentu saja tidak “plek” ditampilkan.  Melainkan penonton disuguhi konflik antara manusia dengan alien.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikisahkan manusia mengirimkan sinyal ke sebuah planet yang ditemukan NASA. Karena dianggap mirip Bumi, maka sinyal yang kuat dipancarkan ke planet yang disebut Planet G. Harapannya tentu agar makhluk yang berdiam di planet tersebut menangkap dan merespon.</p>
<p style="text-align: justify;">Harapan itu terwujud, namun bukan dalam arti positif. Karena alien ternyata mengirimkan lima kapal perangnya (<em>battleship</em>) sebagai misi pendahuluan. Salah satu dari kelima kapal tersebut yang jatuh di Hongkong ternyata adalah kapal komunikasi. Karena jatuh dan rusak, maka sisa kapal yang mendarat di Laut Pasifik berupaya merebut radar pemancar sinyal milik NASA. Tujuannya mengirimkan sinyal ke planet asal mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat kapal-kapal alien itu mendarat, di Laut Pasifik sedang diadakan latihan perang gabungan antar negara. Dan tentu saja seperti biasa Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) yang memimpin. Admiral Shane (Liam Neeson) memimpin armada untuk mengusir para alien itu. Sementara angkatan laut berperang di lautan, di darat sejumlah ilmuwan berusaha menggagalkan upaya alien merebut stasiun radar pemancar sinyal NASA.</p>
<p style="text-align: justify;">Ujungnya mudah ditebak. Manusia menang. Walaupun teknologi alien lebih tinggi, namun semangat juang manusia mempertahankan diri menunjukkan hasil gemilang.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi saya, film ini absurd dan tak jelas jalan ceritanya. Pembangunan karakter tokohnya lemah. Bahkan meski ada Rihanna yang bermain sebagai Raikes, tetap saja aktingnya mentah. Meski sama-sama bertemakan ancaman kiamat pada bumi diakibatkan invasi alien, menurut saya Independence Day (1996) jauh lebih bagus. Walau tentu saja saya sama tak sukanya pada penggambaran <em>leadership </em>Amerika Serikat atas bangsa-bangsa lain yang terkesan dipaksakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Meski <em>special effect</em>-nya lumayan keren, namun agak tidak masuk akal alien yang jelas superior malah kemudian kalah oleh USS Missouri. Ini adalah kapal tua yang saat itu sudah jadi museum. Sekedar gambaran, kapal perang inilah yang menjadi <em>setting </em>film <em>Undersiege</em> (1992) yang dibintangi oleh Steven Seagal. Satu hal yang juga agak dipaksakan adalah penggambaran pelacakan kapal alien yang tak kasat radar dengan menggunakan <em>tsunami buoy</em> milik NOAA. Di layar tampak grid koordinat yang jelas mirip dengan permainan papan “Battleship” aslinya. Dengan cara itulah kemudian kapal alien berhasil dideteksi.</p>
<p style="text-align: justify;">Yeah, bagi saya sih, film ini sekedar hiburan belaka. Lumayan lah untuk pelepas stress.</p>
<p><a href="http://www.resensi-review.com/?p=452" rel="bookmark">Battleship</a> originally appeared on <a href="http://www.resensi-review.com">Resensi-Review Bhayu</a> on April 28, 2012.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.resensi-review.com/?feed=rss2&#038;p=452</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Raid</title>
		<link>http://www.resensi-review.com/?p=417</link>
		<comments>http://www.resensi-review.com/?p=417#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Apr 2012 16:23:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[action]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kartel]]></category>
		<category><![CDATA[laga]]></category>
		<category><![CDATA[mafia]]></category>
		<category><![CDATA[movie]]></category>
		<category><![CDATA[polisi]]></category>
		<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[senapan]]></category>
		<category><![CDATA[SWAT]]></category>
		<category><![CDATA[the raid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.resensi-review.com/?p=417</guid>
		<description><![CDATA[Kalau tidak menggunakan bahasa Indonesia, kita mungkin akan mengira ini film besutan sineas Hollywood atau minimal Hongkong. Betapa tidak, aksi laga penuh darah dan baku tembak penuh aksi mewarnai film sepanjang sekitar dua jam ini. Kisahnya sendiri &#8220;sederhana&#8221;. Cuma berupa penyerbuan pasukan khusus kepolisian (di AS disebut SWAT=Special Weapons And Tactics) ke sebuah flat yang<a href="http://www.resensi-review.com/?p=417">&#160;&#160;[ Read More ]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/04/the-raid-redemption-movie-poster-large.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-419" title="the-raid-redemption-movie-poster-large" src="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/04/the-raid-redemption-movie-poster-large-203x300.jpg" alt="" width="203" height="300" /></a>Kalau tidak menggunakan bahasa Indonesia, kita mungkin akan mengira ini film besutan sineas Hollywood atau minimal Hongkong. Betapa tidak, aksi laga penuh darah dan baku tembak penuh aksi mewarnai film sepanjang sekitar dua jam ini.</p>
<p>Kisahnya sendiri &#8220;sederhana&#8221;. Cuma berupa penyerbuan pasukan khusus kepolisian (di AS disebut SWAT=Special Weapons And Tactics) ke sebuah flat yang dikuasai semacam pemimpin kartel atau boss mafia. Sayangnya, pasukan ini malah terjebak di sana dan dibantai habis oleh para penghuni flat. Hampir semua petugas penyerbu tewas, sehingga membuat panik yang masih bertahan hidup. Bagaimana para petugas yang seharusnya ahli tersebut terjebak dalam situasi mengerikan, itulah inti dari film ini.</p>
<p>Film ini beredar luas di luar negeri dan juga mendapatkan apresiasi positif. Bahkan banyak yang menyejajarkan karya sutradara Gareth Evans ini dengan karya sineas terkemuka seperti John Woo. Ini terutama karena adegan laganya luar biasa brutal. Tidak ada sensor saat pisau menghunjam dada dan darah menyemburat keluar.</p>
<p style="text-align: justify;">Walau begitu, bukan berarti film <em>The Raid</em> (ada versi yang diberi tambahan sub-judul &#8220;<em>Redemption</em>&#8221; karena direncanakan sebagai trilogi) ini tanpa kelemahan. Adegan laga yang ditampilkan secara mentah begitu banyak bertaburan di film ini, malah membuat saya mengantuk. Selain itu, bangunan karakter tiap tokoh juga kurang tergali. Demikian pula dengan konflik yang terjadi. Hanya tampak saat pasukan penyerbu tidak bisa meminta bantuan saat terdesak, karena ternyata operasi itu tidak resmi. Konflik satu lagi nampak saat tangan kanan boss mafia itu ternyata adalah kakak dari salah satu anggota tim penyerbu.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara properti, seragam hitam tanpa tanda pengenal kesatuan juga agak tidak biasa. Mungkin tidak mendapatkan izin dari Polri atau malah pembuat filmnya tidak mau dituntut karena dalam cerita pasukan itu bekerja atas pesanan seseorang. Bahkan penonton bisa jadi mengira mereka bukan polisi karena tidak ada tulisan &#8220;Police&#8221; atau &#8220;Polisi&#8221; di bagian punggung rompi mereka. Juga di mobil van yang dipakai pun tidak ada identitasnya, bahkan juga plat nomor sekalipun. Identitas pasukan penyerbu baru terkuak saat seorang anak berteriak memperingatkan sang pemimpin kartel&#8230; &#8220;Polisi!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Senjata yang digunakan juga agak tidak biasa. Kebanyakan memakai M-16-A1, jenis yang tidak umum dipakai pasukan penyerbu semacam itu. Dan saat baru akan masuk, terlihat semua senapan menggunakan peredam suara (<em>silencer</em>). Namun anehnya, saat terjadi baku tembak, suara tembakan yang muncul adalah suara tembakan biasa tanpa <em>silencer. </em>Dugaan saya, <em>silencer </em>sengaja dipakai agar penonton tidak begitu <em>ngeh  </em>bahwa senjata yang dipakai sebenarnya adalah &#8220;<em>air soft gun</em>&#8220;. Itu karena ada varian yang memang moncongnya sengaja dibuat berbeda dengan senjata asli.</p>
<p style="text-align: justify;">Alur cerita juga agak tergesa-gesa di 30 menit terakhir. Setelah hampir semua anggota pasukan penyerbu tewas di lantai 5 hingga 7, tiga orang terakhir malah mampu mencapai lantai 15 tempat si boss berada. Padahal dari CCTV yang dipantau dari <em>control room </em>di lantai itu, seharusnya gerakan tiga orang itu saat naik bisa terpantau. Ini kurang bisa diterima nalar.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian pula di banyak tempat terlihat adegan laganya adalah hasil sambungan bagian pita film berbeda hasil kerja <em>editing room. </em>Ini bisa jadi karena sulitnya membuat adegan laga berdurasi panjang sekaligus dalam satu kali <em>take </em>tanpa kesalahan sama sekali. Walau begitu, secara umum masih sangat keren untuk dinikmati. Saya terutama kagum pada lokasi <em>shooting </em>yang membuat saya bertanya-tanya, &#8220;Di mana ya flat ini aslinya?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, saran saya, jangan lewatkan film ini! Menontonnya membuat kita tahu bahwa kualitas sineas kita tak kalah dengan Hollywood. Tentu saja, pengecualian bagi mereka yang berpenyakit jantung atau asma serta takut melihat darah dan kekerasan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>Rating saya: 8,2 dari 10.</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Metode menonton: Di bioskop.</strong></span></p>
<p><a href="http://www.resensi-review.com/?p=417" rel="bookmark">The Raid</a> originally appeared on <a href="http://www.resensi-review.com">Resensi-Review Bhayu</a> on April 14, 2012.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.resensi-review.com/?feed=rss2&#038;p=417</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Safe House</title>
		<link>http://www.resensi-review.com/?p=408</link>
		<comments>http://www.resensi-review.com/?p=408#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Mar 2012 08:51:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[action]]></category>
		<category><![CDATA[agen rahasia]]></category>
		<category><![CDATA[Denzel Washington]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[Ryan Reynolds]]></category>
		<category><![CDATA[Safe House]]></category>
		<category><![CDATA[spionase]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.resensi-review.com/?p=408</guid>
		<description><![CDATA[Meski bergenre action dan tentu saja ada adegan tembak-menembak, namun film bertema spionase ini menggambarkan juga sisi membosankan menjadi agen rahasia. Itu karena ada tugas yang ternyata cuma menjaga sebuah rumah yang dinamakan &#8220;safe house&#8221; atau rumah perlindungan. Agen Matt Weston (Ryan Reynolds) kebagian tugas menjaga sebuah rumah milik CIA di Cape Town, Afrika Selatan.<a href="http://www.resensi-review.com/?p=408">&#160;&#160;[ Read More ]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/04/safe_house_movie_poster_1.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-428" title="safe_house_movie_poster_1" src="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/04/safe_house_movie_poster_1-211x300.jpg" alt="" width="211" height="300" /></a>Meski bergenre <em>action</em> dan tentu saja ada adegan tembak-menembak, namun film bertema spionase ini menggambarkan juga sisi membosankan menjadi agen rahasia. Itu karena ada tugas yang ternyata cuma menjaga sebuah rumah yang dinamakan &#8220;safe house&#8221; atau rumah perlindungan. Agen Matt Weston (Ryan Reynolds) kebagian tugas menjaga sebuah rumah milik CIA di Cape Town, Afrika Selatan. Tentu saja, tidak seorang pun tahu apa pekerjaannya. Termasuk pacarnya. Ia sendiri mengaku bekerja sebagai petugas pendaftaran sebuah klinik kesehatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Di tengah hari-hari sepi, tiba-tiba ia kedatangan &#8216;tamu&#8217;. Ini adalah sekelompok agen lapangan CIA yang baru saja menangkap seorang buronan agensi. Dia adalah Tobin Frost, sosok yang digambarkan namanya sudah terkenal dan disegani oleh para agen muda. Sosok Tobin Frost yang diperankan oleh Denzel Washington tampak serupa dengan Jason Bourne. Bedanya, Bourne yang lebih muda tampak lebih kuat daripada Frost yang sudah menua. Namun bukan berarti ia kurang berbahaya, karena ternyata ia sangat tangguh. Termasuk saat diinterogasi dengan menggunakan metode &#8220;water boarding&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Serupa dengan Bourne, Frost juga dijebak dan disalahkan untuk tindakannya di masa lalu. Padahal, ada borok besar yang tengah ditutupi oleh para petinggi CIA. Dan borok itulah yang kemudian harus dicari dalangnya. Weston yang diperintahkan untuk menjaga Frost agar tidak kabur, pada akhirnya malah ikut terlibat dalam membantu Frost. Ia akhirnya terpaksa harus berpihak dan malah ikut menjadi kejaran rekan-rekannya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Meski ceritanya &#8216;sederhana&#8217;, pembangunan konflik film ini ciamik. Penonton dibawa oleh sutradara Daniel Espinosa menyelami kehidupan agen rahasia yang ternyata tidak mudah. Apalagi ini menghadapi kejaran dari sesama rekan yang <em>nota bene</em> didukung negara. Saya lantas juga teringat pada <em>Enemy of The State</em> (1998) yang juga menceritakan mantan agen yang jadi buronan karena difitnah. Film-film ini menarik karena bukan hanya bangunan konfliknya ciamik, namun juga karakternya matang. Adegan demi adegan juga diambil dengan bagus. Pendeknya, film ini layak tonton bagi pecinta film <em>action </em>dan spionase.</p>
<p><span style="color: #ff6600;"><strong>Rating Saya: 7,9 dari 10.</strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Metode Menonton: Di Bioskop.</strong></span></p>
<p><a href="http://www.resensi-review.com/?p=408" rel="bookmark">Safe House</a> originally appeared on <a href="http://www.resensi-review.com">Resensi-Review Bhayu</a> on March 25, 2012.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.resensi-review.com/?feed=rss2&#038;p=408</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>This Means War</title>
		<link>http://www.resensi-review.com/?p=412</link>
		<comments>http://www.resensi-review.com/?p=412#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Mar 2012 12:26:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Chris Pine]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[movie]]></category>
		<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[This Means War]]></category>
		<category><![CDATA[Tom Hardy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.resensi-review.com/?p=412</guid>
		<description><![CDATA[Dari posternya, tidak tergambar bahwa film ini merupakan film bergenre komedi. Lihat saja, ada seorang wanita cantik mengenakan gaun diapit dua pria. Mungkin malah calon penonton akan mengira film ini merupakan drama romantis. Mungkin dengan sedikit bumbu adegan aksi karena para pria itu menggenggam pistol. Terkaan bahwa ada bumbu action benar, tapi film ini jelas<a href="http://www.resensi-review.com/?p=412">&#160;&#160;[ Read More ]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dari posternya, tidak tergambar bahwa film ini merupakan film bergenre komedi. Lihat saja, ada seorang wanita cantik mengenakan gaun diapit dua pria. Mungkin malah calon penonton akan mengira film ini merupakan drama romantis. Mungkin dengan sedikit bumbu adegan aksi karena para pria itu menggenggam pistol. Terkaan bahwa ada bumbu <em>action</em> benar, tapi film ini jelas murni komedi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kisahnya, ada dua agen rahasia yang bekerja untuk CIA, dinas rahasia milik Amerika Serikat. Dua agen ini bersahabat, bahkan meja keduanya berhadapan. Tanpa dinyana, suatu ketika mereka bertemu dengan seorang wanita. Keduanya mengira wanita itu berbeda, tapi ternyata sama. Artinya, dua orang agen yang bersahabat itu mengejar cinta seorang wanita.</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal, karakter kedua orang itu berbeda. Agen Tuck (Tom Hardy) adalah seorang pria matang, dewasa dan sangat berhati-hati. Ia seorang duda dengan satu anak yang agak terlalu konservatif terutama soal wanita. Sementara rekannya agen FDR Foster (Chris Pine) adalah seorang pria muda yang necis bergaya bak &#8220;esmod&#8221; (eksekutif muda). Ia merupakan kebalikan dari sahabatnya, sangat percaya diri soal wanita dan cenderung &#8220;playboy&#8221;. Namun, ia merasa jatuh cinta dan &#8220;kepentok&#8221; saat bertemu Lauren (Reese Witherspoon). Demikian pula dengan Tuck yang sudah lama tak berkencan. Ketika mereka kemudian mengetahui sedang mengejar pria yang sama, maka terjadi taruhan. Bahkan, karena itu pula hubungan persahabatan keduanya rusak.</p>
<p style="text-align: justify;">Lucunya, keduanya kemudian menggunakan fasilitas CIA untuk mengetahui hal-ihwal mengenai Lauren. Lebih jauh lagi, agar memenangkan persaingan, masing-masing membentuk tim operasi yang bertugas memata-matai lawannya. Ini termasuk memasang peralatan penyadap bahkan menggunakan satelit. Jadi, kedua agen itu saling mengintai langkah masing-masing. <em>Special effect</em> dan <em>set-up property</em> yang digunakan keren. Saya lantas jadi teringat pada <em>Mr. and Mrs. Smith</em> (2005). Film yang dibintangi Angelina Jolie dan Brad Pitt itu juga mengisahkan perseteruan dua orang agen. Bedanya, mereka bukan agen rahasia negara melainkan pembunuh bayaran. Dan kedua orang itu ternyata tidak mengetahui bahwa sebagai suami-istri, ternyata masing-masing dari mereka adalah lawan sepadan bagi yang lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaan akhirnya: siapa yang akhirnya berhasil memenangkan hati Lauren? Tuck yang matang atau FDR yang asyik?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p><a href="http://www.resensi-review.com/?p=412" rel="bookmark">This Means War</a> originally appeared on <a href="http://www.resensi-review.com">Resensi-Review Bhayu</a> on March 3, 2012.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.resensi-review.com/?feed=rss2&#038;p=412</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Negeri 5 Menara</title>
		<link>http://www.resensi-review.com/?p=400</link>
		<comments>http://www.resensi-review.com/?p=400#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Mar 2012 11:05:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmad Fuadi]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[movie]]></category>
		<category><![CDATA[negeri 5 menara]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.resensi-review.com/?p=400</guid>
		<description><![CDATA[Menyaksikan film ini dengan ekspektasi akan sebagus &#8220;Ayat-Ayat Cinta&#8221; (AAC), terus terang saya agak kecewa. Berbeda dengan AAC, saya belum membaca novelnya sebelum menyaksikan filmnya. Jadi, saya menonton di bioskop dengan kepala kosong. Hal pertama yang membuat saya kecewa adalah tempo penceritaan yang amat lambat. Hal kedua adalah ceritanya yang sangat &#8220;doktriner&#8221;. Hal ketiga adalah<a href="http://www.resensi-review.com/?p=400">&#160;&#160;[ Read More ]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/03/43umGS_Negeri-5-Menara_320x480.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-404" title="43umGS_Negeri-5-Menara_320x480" src="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/03/43umGS_Negeri-5-Menara_320x480-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a>Menyaksikan film ini dengan ekspektasi akan sebagus &#8220;Ayat-Ayat Cinta&#8221; (AAC), terus terang saya agak kecewa. Berbeda dengan AAC, saya belum membaca novelnya sebelum menyaksikan filmnya. Jadi, saya menonton di bioskop dengan kepala kosong.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal pertama yang membuat saya kecewa adalah tempo penceritaan yang amat lambat. Hal kedua adalah ceritanya yang sangat &#8220;doktriner&#8221;. Hal ketiga adalah akhir cerita yang &#8220;begitu doang&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, di samping ketiga hal yang mengecewakan tersebut, ada sejumlah <em>point </em>yang saya kagumi dari film ini. Apa saja? Nanti akan saya terangkan. Sekarang, mari kita simak dulu sepintas jalan ceritanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Film dibuka dengan percakapan antara dua orang suami-istri yang jelas tampak berasal dari Minangkabau. Kenapa? Karena bahasa yang digunakan adalah bahasa Minangkabau, plus dandanan sang istri yang khas wanita daerah tersebut. Mereka adalah orangtua Alif Fikri Chaniago, yang akan jadi tokoh utama film ini. Keduanya sedang berunding bagaimana cara memberitahukan pada putra tunggalnya bahwa mereka berniat menyekolahkan anaknya ke pesantren. Padahal, Alif sudah &#8220;bertaruh&#8221; durian dengan sahabatnya Randai untuk bisa masuk ke ITB (Institut Teknologi Bandung). Dan tentunya jalan terbaik untuk itu adalah melanjutkan sekolah SMA di Bandung. Alif tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia baru bisa memaklumi dan akhirnya mengikuti kemauan ibunya setelah ayahnya menjual kerbau satu-satunya. Saat itulah ayahnya menyarankan agar mengambil hikmah dari cara mereka bertransaksi, yaitu dengan memasukkan tangan ke dalam sarung yang dipakai oleh pedagang. Di balik sarung itulah mereka tawar-menawar harga kerbau.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, berangkatlah Alif ke Jawa, tepatnya ke Ponorogo. Di sana, ia masuk ke Pondok Madani. Di saat akan menghadapi tes masuk, Alif diwarisi pena (fulpen) milik kakeknya yang sudah diturunkan ke bapaknya. Di masa itu, memiliki fulpen bertinta merupakan sebuah kemewahan. Alif pun mampu mengerjakan tes dengan baik dan lulus.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat pertama kali masuk kelas, ustadz Salman mengajarkan satu kalimat &#8220;sakti&#8221; yang akan jadi &#8220;mantra&#8221; sepanjang film. Ia pun menunjukkannya dengan dramatis dengan cara membawa golok untuk memotong bambu. Kalimat itu adalah &#8220;Man Jadda Wajada&#8221;, pepatah Arab yang berarti &#8220;Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil”.</p>
<p style="text-align: justify;">Singkat kata, Alif ditempatkan satu asrama dengan Raja Lubis dari Medan, Said Jufri dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso Salahuddin dari Gowa. Keenam orang inilah yang kemudian menamakan dirinya &#8220;Shohibul Menara&#8221;. Itu karena tempat mereka sering &#8220;nongkrong&#8221; adalah di bawah menara masjid. Momennya saat mereka berhasil memenangkan juara kedua lomba berbahasa Inggris dan seorang siswa lain lewat dan menyebut mereka dengan istilah itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kisah berputar di sekitar Pondok Madani tempat mereka menuntut ilmu. Mulai dari penyesuaian diri dengan tradisi dan kebiasaan di sana hingga menghadap Kyai untuk &#8220;memprotes&#8221; listrik yang sering mati. Termasuk juga pergolakan batin Alif yang masih ingin meneruskan pendidikan ke ITB. Hal itu terutama karena ia ingin seperti Habibie. Ia makin sedih saat Randai ternyata berhasil masuk SMA di Bandung, bahkan kemudian ke ITB. Di tahun keempat sekolahnya di Pondok Madani, ibunya tak bisa mengirim uang saat liburan tiba. Walhasil, ia pun tak bisa pulang. Beruntung Tatang mengajak ke-5 sahabatnya pulang bersama-sama ke Bandung. Di sanalah ia kemudian bertemu kembali dengan Randai. Sahabatnya ini mengajak Alif berkunjung ke ITB yang bukan kebetulan sedang mengadakan &#8220;studium generale&#8221; dengan pembicaranya Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesedihan sempat datang saat Baso mendadak harus pulang karena neneknya sakit. Ia yang sudah yatim-piatu tak kuasa menolak ketika tetangganya datang mengabarkan berita itu. Karena baktinya pada sang nenek yang merawatnya, maka ia pun meninggalkan pendidikannya yang belum selesai. Perjuangan lima &#8220;shahibul menara&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai film yang diadaptasi dari novel karya Ahmad Fuadi, film ini tentu mengambil &#8220;bentuk&#8221; dari karya sastra aslinya. Namun, tentu saja adaptasi terjadi di sana-sini. Karena saya belum membaca novelnya, maka saya tak bisa berkomentar dari sini ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya hanya bisa mengetengahkan apa yang saya kagumi dari film ini. Hal pertama adalah detailnya. Baik di penggunaan bahasa dan dialeknya, kostum (<em>wardrobe</em>) maupun properti lain seperti kendaraan dan bangunan. Karena <em>setting </em>film adalah di tahun 1980-an, maka kita bisa melihat lagi kendaraan Toyota Corolla DX hingga surat beramplop kilat khusus berprangko Presiden Soeharto! Keren! Hal kedua adalah kemampuan adaptasi dari novel yang konon sangat detail dan panjang menjadi lebih sederhana. Film masih cukup menarik meski alurnya terlalu lambat terutama di 15 menit pertama. Hal ketiga adalah konsistensi pada pesan yang ingin dibawa dan kemampuan membawakan &#8220;dakwah&#8221; tanpa terlalu berkesan menggurui.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua itu menjadikan film ini sangat layak ditonton. Terlebih bila ditambah keinginan memajukan perfilman negeri sendiri dan mencintai bangsa, tambah pas deh. Tapi terus terang bagi penyuka film-film &#8220;dar-der-dor&#8221; ala Hollywood akang <em>ngantuk </em>di dalam bioskop. Jadi, pilihan tetap di tangan Anda&#8230; <img src='http://www.resensi-review.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p><a href="http://www.resensi-review.com/?p=400" rel="bookmark">Negeri 5 Menara</a> originally appeared on <a href="http://www.resensi-review.com">Resensi-Review Bhayu</a> on March 3, 2012.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.resensi-review.com/?feed=rss2&#038;p=400</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Underworld: Awakening</title>
		<link>http://www.resensi-review.com/?p=388</link>
		<comments>http://www.resensi-review.com/?p=388#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Feb 2012 02:47:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[2012]]></category>
		<category><![CDATA[action]]></category>
		<category><![CDATA[awakening]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Kate Beckinsale]]></category>
		<category><![CDATA[lycans]]></category>
		<category><![CDATA[underworld]]></category>
		<category><![CDATA[vampire]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.resensi-review.com/?p=388</guid>
		<description><![CDATA[Film ini adalah serial dari kisah Underworld. Perseteruan antara vampire dan lycans (manusia serigala) memasuki babak baru. Di film edisi sebelumnya -Underworld: Rise of The Lycans (2009)-, manusia menyadari adanya dua ras lain selain mereka. Maka, kemudian dilakukan pembersihan yang mungkin bisa disebut &#8220;race cleansing&#8221; alih-alih &#8220;ethnic cleansing&#8221;. Kejadian tersebut dikisahkan di awal film dalam<a href="http://www.resensi-review.com/?p=388">&#160;&#160;[ Read More ]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/02/underworld-awakening-2012-movie-poster-e13251110145571.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-389" title="underworld-awakening-2012-movie-poster-e1325111014557" src="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/02/underworld-awakening-2012-movie-poster-e13251110145571-203x300.jpg" alt="" width="203" height="300" /></a>Film ini adalah serial dari kisah <em>Underworld</em>. Perseteruan antara vampire dan lycans (manusia serigala) memasuki babak baru. Di film edisi sebelumnya -<em>Underworld: Rise of The Lycans</em> (2009)-, manusia menyadari adanya dua ras lain selain mereka. Maka, kemudian dilakukan pembersihan yang mungkin bisa disebut &#8220;race cleansing&#8221; alih-alih &#8220;ethnic cleansing&#8221;. Kejadian tersebut dikisahkan di awal film dalam bentuk kilas balik (<em>flashback</em>), sehingga bagi yang belum pernah menyaksikan tiga film sebelumnya akan masih bisa mengikuti jalannya cerita.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak sulit mengikuti film ini, karena memang ceritanya cuma pertempuran antara dua ras itu. Cuma, di film ini dikisahkan kedua ras terpaksa bersembunyi karena manusia berhasil mengeliminasi sebagian besar di antara mereka. Di film terakhir, Selena (Kate Beckinsale) dikisahkan terpisah dari kekasihnya Michael Corvin karena bom ultraviolet yang diledakkan manusia. Berbeda dengan Selena yang vampire, Michael adalah campuran keduanya. Sehingga ia lebih kuat. Lycans sendiri merupakan mutasi dari werewolves, sehingga ia bisa berubah bentuk kapan pun menjadi manusia dan serigala. Sementara werewolves cenderung tidak bisa mengontrol perubahan dirinya, biasanya ia berubah menjadi serigala di malam bulan purnama.</p>
<p style="text-align: justify;"> Di edisi ini, Selena tersadar sudah berada dalam satu inkubator es di sebuah laboratorium dan dirinya disebut &#8220;&#8221;Subyek 2&#8243;. &#8220;Subyek 1&#8243; kemudian berhasil meloloskan diri dan membebaskan Selena. Ia mengira &#8220;Subyek 1&#8243; itu adalah Michael, namun ternyata adalah seorang anak perempuan. Keistimewaan dari mereka adalah saling terhubung sehingga bisa melihat melalui mata yang lain. (Saya mau tak mau teringat <em>Resident Evil</em> saat Selena mencoba kabur dari laboratorium).</p>
<p style="text-align: justify;">Saat Selena kabur, ia kemudian berjumpa dengan seorang pemuda vampire yang ternyata putra tetua kelompok vampire yang tersisa. Ia dibawa ke persembunyian mereka di bawah tanah. Namun Selena ditolak karena di edisi sebelumnya, Selena membunuh beberapa di antara para tetua vampire. Itu karena ia merasa dikhianati. Kedatangan Selena membawa anak yang ternyata adalah anaknya sendiri dengan Michael itu membuat markas rahasia para vampire akhirnya terendus oleh musuh mereka, para lycans.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu, ras lycans berhasil mengembangkan sejenis vaksin yang membuat mereka jauh lebih kuat. Justru dari darah dan DNA Selena serta anak perempuan yang disebut &#8220;Subyek 1&#8243; (dan kemudian diketahui dari Michael juga), dikembangkan zat baru itu. Maka, muncullah generasi lycans yang beberapa kali lebih besar ukurannya, otot lebih kuat dan cepat berkembang serta yang paling penting segera memulihkan diri apabila terluka. Lycans mampu melakukan ini karena mereka mendirikan perusahaan bernama &#8220;Antigen&#8221; yang berafiliasi dengan pemerintah.</p>
<p style="text-align: justify;">Adegan-adegan selanjutnya cukup menarik dari segi <em>special effect</em>. Adegan pertempuran dan perkelahiannya keren. Cuma memang tak ada yang baru. Seperti menonton kelanjutan dari <em>The Matrix</em> saja. Jalan ceritanya sederhana sehingga mudah disimak sambil makan camilan. Meski ada darah di mana-mana, namun terasa artifisial karena secara logika kita tahu ini cerita &#8220;komik&#8221; yang fiktif. Bagi saya, film ini lumayan sebagai tontonan. Hanya saja jangan berharap &#8220;got something&#8221; darinya. Karena memang ini film yang murni untuk hiburan. Mirip-mirip <em>Breaking Dawn </em>minus &#8220;menye-menye&#8221; lah&#8230;. <img src='http://www.resensi-review.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Metode menonton: Di bioskop.</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff6600;"><strong>Rating saya: 7,8 dari 10.</strong></span></p>
<p><a href="http://www.resensi-review.com/?p=388" rel="bookmark">Underworld: Awakening</a> originally appeared on <a href="http://www.resensi-review.com">Resensi-Review Bhayu</a> on February 19, 2012.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.resensi-review.com/?feed=rss2&#038;p=388</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The 5 Days of Wars</title>
		<link>http://www.resensi-review.com/?p=369</link>
		<comments>http://www.resensi-review.com/?p=369#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 15:22:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[action]]></category>
		<category><![CDATA[drama]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[perang]]></category>
		<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[The Five Days of War]]></category>
		<category><![CDATA[war]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.resensi-review.com/?p=369</guid>
		<description><![CDATA[Menyaksikan film ini di bioskop membuat efek suara dan imaji menjadi maksimal. Kengerian yang tergambar dari perang mencuat jelas. Bagi yang memiliki masalah dengan darah atau punya penyakit jantung misalnya, tidak dianjurkan menyaksikannya. Demikian pula bagi yang senang menyaksikan film action atau perang yang memiliki satu &#8220;jagoan&#8221; utama yang &#8220;pasti menang&#8221;, hampir dipastikan akan menuai<a href="http://www.resensi-review.com/?p=369">&#160;&#160;[ Read More ]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/01/five_days_of_war_ver3.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-370" title="five_days_of_war_ver3" src="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2012/01/five_days_of_war_ver3-202x300.jpg" alt="" width="202" height="300" /></a>Menyaksikan film ini di bioskop membuat efek suara dan imaji menjadi maksimal. Kengerian yang tergambar dari perang mencuat jelas. Bagi yang memiliki masalah dengan darah atau punya penyakit jantung misalnya, tidak dianjurkan menyaksikannya. Demikian pula bagi yang senang menyaksikan film <em>action</em> atau perang yang memiliki satu &#8220;jagoan&#8221; utama yang &#8220;pasti menang&#8221;, hampir dipastikan akan menuai kebosanan. <em>Genre</em> film ini adalah <em>action-war-drama</em>. Kalau pernah menyaksikan film-film perangnya Steven Spielberg semacam <em>Saving Private Ryan</em> (1998) atau <em>The Tin Red Line </em>(1998)<em>-</em>nya sutradara Terrence Malick, film ini memiliki gaya serupa.</p>
<p style="text-align: justify;">Penonton harus bisa membedakan bahwa yang nyata dari film ini hanya <em>setting </em>atau latar belakang ceritanya. Maka, tulisan &#8220;based on true event&#8221; harus dimaknai bahwa cerita yang jadi latar belakang film ini nyata. Sedangkan, karakter, plot cerita, dan adegannya fiktif.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang nyata adalah terjadinya Perang Russia-Georgia di tahun 2008. Karena berada di provinsi Ossetia Selatan, maka perang ini juga kerap disebut &#8220;South-Ossetia War&#8221;. Sedangkan kisah perjuangan para jurnalis di film ini fiktif.</p>
<p style="text-align: justify;">Tema dasar film ini adalah romantisme jurnalisme, yang mengidealkan &#8220;perjuangan menyiarkan kebenaran&#8221;. Ini mengamini kutipan dari Senator A.S. Hiram Warren Johnson yang ditampilkan di awal film: &#8220;<em>The first casualty</em> <em>when war comes is truth&#8221;. </em>Para jurnalis di film ini berjuang menyiarkan kebenaran mengenai perang tersebut, yang dikesankan berusaha ditutup-tutupi oleh pihak Russia.</p>
<p style="text-align: justify;">Film dimulai justru di Irak, tahun 2007. Di mana terdapat trio jurnalis yaitu Thomas Anders, Sebastian Ganz dan Miriam sedang meliput. Namun tiba-tiba mereka diserang oleh milisi Irak yang menyebabkan tewasnya Miriam kekasih Thomas Anders. Di saat itulah mereka ditolong oleh pasukan koalisi asal Georgia pimpinan Kapten Rezo Avaliani. Sang kapten memberikan jimat berupa <em>medallion</em> bergambar St. George kepada Thomas Anders. Pemilihan tokoh St. George ini merupakan simbolisasi agar para jurnalis memperjuangkan kebenaran meskipun harus mengorbankan nyawanya seperti martir Katholik tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Setahun kemudian, di Georgia, Thomas Anders dan Sebastian Ganz ditugaskan meliput perang di sana. Mereka menghubungi kontak mereka yang dikenal dengan nama Dutchman. Keduanya menunggu penghubung mereka datang di sebuah pesta pernikahan warga lokal. Tiba-tiba, pesawat tempur Russia membom tempat itu yang mengakibatkan korban sipil termasuk pengantin pria tewas. Kedua jurnalis itu lantas berupaya menolong warga yang terluka parah ditemani oleh Tatia, kakak dari pengantin wanita. Dan petualangan kemudian dimulai mulai dari menembus penjagaan, merekam pembantaian, tertangkap dan diinterogasi oleh pihak Russia, serta upaya menyelamatkan rekaman video dari perampasan pihak Russia untuk kemudian berupaya menyiarkannya ke seluruh dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam perang yang hanya berlangsung selama lima hari ini, pihak Russia menggunakan tentara bayaran atau milisi di garis depan. Mereka digambarkan bertindak kejam dengan melakukan pembantaian massal kepada penduduk desa di perbatasan. Sementara itu, dunia tidak tergerak untuk membantu terutama karena tidak tahu. A.S. dan NATO memilih untuk lebih percaya pada pernyataan Russia, tentu saja seraya menghindari perang besar langsung dengan negara pewaris kekuasaan bekas negara adikuasa Uni Sovyet itu. Padahal, Georgia sudah masuk sebagai anggota UE (Uni Eropa) dan sedang melamar menjadi anggota NATO. Karena itulah para jurnalis dalam film ini berupaya menyiarkan rekaman video pembantaian yang dilakukan pihak milisi sewaan Russia.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang mengagumkan bagi saya dari film ini adalah detailnya. Tadinya saya mengira tank dan pesawat jet tempur yang digunakan adalah miniatur. Ternyata setelah  saya membaca dan melihat foto &#8220;<em>beyond the screen</em>&#8221; proses pembuatan film, properti kendaraan yang digunakan asli! Maka, penyuka kemiliteran akan menyaksikan pameran kendaraan tempur terutama dari pihak Russia seperti tank T-54, pesawat jet serang-tempur MiG-24 Fishbed, helikopter Mi-24 Hind, pesawat pembom Tu-24 Badger, hingga sejumlah kendaraan angkut dan MLRS (Multiple Launcher Rocket System). Sementara dari pihak Georgia tampak kendaraan tempur serba guna segala medan Humvee buatan Amerika Serikat.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu detail kota pun tampak begitu nyata. Seolah film ini adalah dokumenter. Padahal jelas film ini fiktif, meski <em>setting-</em>nya kejadian sejarah yang nyata terjadi. Properti baik pakaian maupun senjata juga akurat. Saya juga tertarik pada penggambaran budaya Georgia (ada adegan menari yang menarik di pesta pernikahan) termasuk pakaian adat khasnya sertas detail agama Kristen Orthodoks yang dianut. Untuk semua hal itu patut dipuji.</p>
<p style="text-align: justify;">Meski begitu tetap ada beberapa adegan yang &#8220;film banget&#8221;. Misalnya adegan klasik sang tokoh protagonis yaitu Thomas Anders berjalan menjauh dengan latar belakang ledakan api dari bangunan gedung yang ditembak dengan roket dari helikopter. Juga adegan saat pasukan Georgia pimpinan Kapten Rezo Avaliani mendadak masuk dengan cara <em>rappeling </em>memecahkan jendela saat Thomas Anders diinterogasi oleh Kolonel Alexandr Demidov.</p>
<p style="text-align: justify;">Pendeknya, film ini bagus bagi penyuka sejarah dan epik perang. Namun sekali lagi bukan perang ala Rambo yang punya jagoan. Di sini, tokoh protagonis-nya adalah para jurnalis, bukan prajurit. Medan perjuangannya pun bukan memenangkan suatu misi dalam perang, melainkan berupaya menyiarkan rekaman video pembantaian massal.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Metode menonton: Di bioskop.</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff6600;">Rating saya: 8,7 dari 10.</span></strong></p>
<p><a href="http://www.resensi-review.com/?p=369" rel="bookmark">The 5 Days of Wars</a> originally appeared on <a href="http://www.resensi-review.com">Resensi-Review Bhayu</a> on January 19, 2012.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.resensi-review.com/?feed=rss2&#038;p=369</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penulisan Resensi Film dari Cakram Padat</title>
		<link>http://www.resensi-review.com/?p=340</link>
		<comments>http://www.resensi-review.com/?p=340#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 15:25:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dari Bhayu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.resensi-review.com/?p=340</guid>
		<description><![CDATA[Selain menonton langsung di bioskop, saya memiliki sejumlah besar koleksi cakram padat (VCD/DVD/Blue Ray). Karena itu, saya akan menuliskan pula resensinya di website ini. Karena sumbernya adalah cakram padat yang biasanya edar di pasar beberapa bulan setelah filmnya tayang di bioskop, maka tentu saja tidak bisa dituliskan resensinya bersamaan dengan waktu tayang di bioskop. Maka<a href="http://www.resensi-review.com/?p=340">&#160;&#160;[ Read More ]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2011/12/300px-CD_Video_Disc.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-342" title="300px-CD_Video_Disc" src="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2011/12/300px-CD_Video_Disc-296x300.jpg" alt="" width="296" height="300" /></a>Selain menonton langsung di bioskop, saya memiliki sejumlah besar koleksi cakram padat (VCD/DVD/Blue Ray). Karena itu, saya akan menuliskan pula resensinya di <em>website</em> ini. Karena sumbernya adalah cakram padat yang biasanya edar di pasar beberapa bulan setelah filmnya tayang di bioskop, maka tentu saja tidak bisa dituliskan resensinya bersamaan dengan waktu tayang di bioskop.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka tanggal penulisan resensinya pun sesuai dengan tanggal kiwari. Saya tidak mengurutkan berdasarkan waktu edar filmnya, melainkan semata berdasarkan waktu penulisan resensi. Jadi resensi yang saya tulis lebih awal muncul lebih dulu di sini. Agar tidak membingungkan, maka akan dituliskan data-data tambahan seperti waktu edar asli film ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu, ada sejumlah film yang sudah saya saksikan di bioskop, namun belum saya tuliskan resensinya. Untuk film-film yang masih terhitung baru tersebut, saya usahakan tanggal <em>posting-</em>nya berurutan sesuai tanggal tayang di bioskop.</p>
<p style="text-align: justify;">Terima kasih sudah berkunjung dan semoga bermanfaat sebagai referensi. Bila puas, mohon beritahukan teman-teman yang lain ya&#8230;. <img src='http://www.resensi-review.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Foto ilustrasi: filmmakingstuff.com</p>
<p><a href="http://www.resensi-review.com/?p=340" rel="bookmark">Penulisan Resensi Film dari Cakram Padat</a> originally appeared on <a href="http://www.resensi-review.com">Resensi-Review Bhayu</a> on December 3, 2011.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.resensi-review.com/?feed=rss2&#038;p=340</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Java Jazz Festival 2011 di Mata Penonton Awam</title>
		<link>http://www.resensi-review.com/?p=326</link>
		<comments>http://www.resensi-review.com/?p=326#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 14:00:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Acara]]></category>
		<category><![CDATA[2011]]></category>
		<category><![CDATA[festival]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Java Jazz]]></category>
		<category><![CDATA[life style]]></category>
		<category><![CDATA[Peter F. Gontha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.resensi-review.com/?p=326</guid>
		<description><![CDATA[Saya beruntung mendapatkan tiket compliment 3-Day Pass untuk menghadiri event “Axis Jakarta International Java Jazz Festival 2011″ hari Jum’at-Minggu, 4-6 Maret 2011 lalu.  Jujur saja, bagi orang seperti saya, harga tiket acara ini terbilang cukup mahal. Karena itu, sudah beberapa kali saya melewatkan menyaksikan acara ini, walau dahulu pernah menyaksikannya saat masih bertempat di Jakarta<a href="http://www.resensi-review.com/?p=326">&#160;&#160;[ Read More ]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2011/12/Java-Jazz-2011-tiket-publikasi-Bhayu-MH.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-330" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://www.resensi-review.com/wp-content/uploads/2011/12/Java-Jazz-2011-tiket-publikasi-Bhayu-MH-300x235.jpg" alt="" width="300" height="235" /></a>Saya beruntung mendapatkan tiket compliment 3-Day Pass untuk menghadiri event “Axis Jakarta International Java Jazz Festival 2011″ hari Jum’at-Minggu, 4-6 Maret 2011 lalu.  Jujur saja, bagi orang seperti saya, harga tiket acara ini terbilang cukup mahal. Karena itu, sudah beberapa kali saya melewatkan menyaksikan acara ini, walau dahulu pernah menyaksikannya saat masih bertempat di Jakarta Hilton Convention Centre. Apalagi saya ini cuma penonton awam, bukan penggemar berat jazz.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah sejak beberapa tahun belakangan,<em> event </em>ini mengambil <em>venue</em> di Jakarta International Expo atau arena Pekan Raya Jakarta di Kemayoran. Dari segi tempat, saya merasa tempat ini jauh lebih baik terutama bagi kenyamanan penonton. Di seluruh kawasan kompleks Gelora Bung Karno, banyak sekali preman dan calo berkeliaran. Ini membuat tidak nyaman karena pengunjung biasanya terpaksa membayar tiga kali: tiket masuk resmi, dipalak saat baru saja parkir dan dipalak lagi saat mau pulang. Memang, saat baru parkir terkadang ada petugas yang memakai seragam parkir resmi. Tapi biaya parkir yang mereka minta “nembak”. Bisa Rp 5.000,00 atau malah lebih. Saya seringkali harus adu nyali dan harus <em>ngotot</em> karena menolak membayar. Sementara di JI-Expo, saya tidak dicegat preman berseragam petugas parkir saat baru datang maupun akan pulang. Tiket parkirnya pun nyaman karena dihitung Rp 15.000,00 sekali masuk, bukan per jam. Rasa aman juga lebih terjamin karena seluruh area parkir dipagar.</p>
<p style="text-align: justify;">Soal penyelenggaraan acara yang sudah untuk ketujuh kalinya ini, Java Festival Production yang dikomandoi Peter F. Gontha tentu sudah memiliki banyak pengalaman. Apalagi sebelumnya ia adalah pemilik JAMZ, klub yang khusus menyajikan jazz. Jadi, kecintaannya pada jazz tak bisa diragukan. Kini, saya melihat <em>event</em> ini sudah menjadi kalendar tetap para pecinta jazz dunia. Hal ini terutama ditunjukkan dengan hadirnya para musisi kaliber dunia. Sebutlah ada Carlos Santana, gitaris beraliran Latin-Rock-Jazz ini adalah peraih 10 Grammy Award. Juga ada George Benson, Four Play, Roy Hargrove, Roberta Gambarini, atau Everette Harp &amp; Bobby Lyle. Tentu masih banyak deretan nama lain, termasuk musisi papan atas Indonesia. Saya juga melihat tiap tahun kehadiran penonton “bule” makin banyak saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Publikasi dari media massa termasuk dari <em>Kompas</em> yang antara lain menjadikannya kepala berita (<em>headline</em>) edisi hari Minggu (6/3) kemarin membuat masyarakat makin ingin menyaksikannya. Nah, di sinilah lucunya. Saya melihat yang datang berasal dari aneka jenjang usia, walau dari segi kelas ekonomi jelas kelas menengah-atas. Ada beberapa orang kakek-nenek yang tampaknya diajak anaknya. Mereka sepertinya tidak begitu mengerti jazz yang tercermin dari wajah dan pembicaraannya. Sementara ada juga generasi yang mengalami masa remajanya di tahun 1970-an justru tampak bersemangat pindah dari satu <em>stage</em> ke <em>stage </em>lain. Ada yang malah berdandan khas ibu-ibu pejabat lengkap dengan sasak rambutnya. Mereka ini tampaknya justru penggemar berat jazz, mungkin karena kelas ekonominya. Nah masalah kelas ekonomi ini juga membuat saya terpana, ternyata orang Indonesia bisa “beradab” juga. Tertib, teratur saat antri, tidak buang sampah sembarangan, dan bicara sopan. Wah, kalau tidak melihat tulisan dan tentu saja bahasa Indonesia yang dipergunakan, mungkin saya mengira sudah di luar negeri.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sini saya teringat pada pernyataan sobat saya Yuswohady. Dalam suatu acara terbatas yang saya hadiri ia pernah mengemukakan bahwa untuk menjadi bangsa beradab justru kita harus mencapai taraf ekonomi tertentu. Ia menyebutnya sebagai “Customer 3.000″. Artinya, di saat GNP (<em>Gross National Product</em>) kita mencapai angka US$ 3.000, maka akan terjadi peningkatan “peradaban” (<em>civilization</em>). Karena masyarakat dengan pendapatan yang meningkat jelas tak mau lagi mengadopsi gaya hidup kampungan.</p>
<p style="text-align: justify;">Java Jazz ini, mau tak mau sudah menjadi gaya hidup (<em>life style</em>), simbol kesuksesan. Saya melihatnya malah seperti fenomena penggunaan <em>handphone </em>Nokia Communicator yang jadi trend sebelum muncul PDA dari O2 dan HP (Hewlett-Packard) serta kini BlackBerry. Dahulu, karena itu adalah <em>handphone </em>termahal di pasar, kelas menengah-atas yang baru (atau bisa disebut OKB: Orang Kaya Baru) kerap membelinya hanya sebagai simbol status. Anak-anak SD sampai SMA saja sampai menentengnya ke mana-mana, padahal jelas segmen pasar asli <em>handphone</em> pabrikan asal Finlandia itu tidak ke sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai bagian dari gaya hidup, tentu saja menyaksikan Java Jazz tidak semata menikmati permainan ciamik para pemusik, tapi lebih pada agar tampil asyik. Ini lantas seperti membenarkan tesis Hannah Arendt dalam esainya “The Crisis in Culture” (1961) yang menyatakan “market-driven media would lead to the displacement of culture by the dictates of entertainment.” Yah, semoga ini pertanda bangsa kita sudah “on the right track” seperti kerap didengungkan pemerintah.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa foto acara Java Jazz Festival dapat dilihat di blog <a href="http://lifeschool.wordpress.com/2011/03/08/oleh-oleh-dari-java-jazz-festival-2011/">LifeSchool</a> (<a href="http://www.lifeschool.wordpress.com/">http://www.lifeschool.wordpress.com</a>).</p>
<p style="text-align: justify;">Artikel ini semula di-<em>posting</em> di <a href="http://hiburan.kompasiana.com/musik/2011/03/08/java-jazz-festival-di-mata-penonton-awam/"><em>Kompasiana</em>, 8 Maret 2011</a>.</p>
<p><a href="http://www.resensi-review.com/?p=326" rel="bookmark">Java Jazz Festival 2011 di Mata Penonton Awam</a> originally appeared on <a href="http://www.resensi-review.com">Resensi-Review Bhayu</a> on December 3, 2011.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.resensi-review.com/?feed=rss2&#038;p=326</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

